Tim SAR Bertahan Dirikan Tenda di Puncak Bukit Bulusaraung
Maros (epictoto) — Malam di puncak Bulusaraung tidak ramah. Angin dingin menusuk, kabut turun cepat, dan jalur terjal menyulitkan setiap langkah. Namun di ketinggian itu, tim SAR memilih bertahan. Sebuah tenda didirikan di puncak bukit—menjadi pos sementara bagi para petugas yang terlibat dalam operasi pencarian dan penanganan lanjutan insiden pesawat ATR.
Keputusan bertahan di puncak bukan tanpa alasan. Medan Bulusaraung yang curam dan bervegetasi lebat membuat mobilisasi naik-turun memakan waktu dan berisiko tinggi. Dengan mendirikan tenda, tim dapat menghemat waktu, menjaga stamina, dan merespons lebih cepat ketika kondisi memungkinkan.
Bertahan demi Keselamatan dan Kepastian
Operasi ini melibatkan koordinasi lintas lembaga, termasuk Basarnas, aparat keamanan, dan relawan terlatih. Setiap keputusan lapangan mempertimbangkan dua hal utama: keselamatan personel dan kepastian bagi keluarga korban.
Di puncak bukit, logistik diatur ketat—mulai dari makanan, air, hingga peralatan navigasi. Tenda menjadi ruang istirahat singkat, tempat evaluasi strategi, sekaligus simbol keteguhan: bahwa upaya belum berhenti meski alam menantang.
Cuaca dan Medan: Ujian Nyata
Bulusaraung dikenal dengan kontur karst yang rapuh. Batu licin, jurang tersembunyi, dan perubahan cuaca mendadak menuntut kewaspadaan penuh. Kabut bisa turun dalam hitungan menit, membatasi jarak pandang dan memaksa penyesuaian rencana.
“Keselamatan tim adalah prioritas. Kami bergerak saat aman,” ujar seorang petugas. Prinsip ini sejalan dengan standar operasi: menolong tanpa menambah korban.
Dimensi Kemanusiaan di Garis Depan
Di balik helm dan rans berat, para petugas membawa beban emosional. Mereka tahu, setiap jam yang berlalu adalah penantian bagi keluarga. Bertahan di puncak bukit adalah pilihan berat, namun diperlukan agar operasi tetap efektif dan manusiawi.
Keberadaan tenda di puncak menjadi pengingat senyap tentang pengabdian—bahwa ada orang-orang yang memilih dingin dan lelah agar orang lain mendapatkan jawaban.
Koordinasi dan Akuntabilitas
Seluruh perkembangan dilaporkan secara berkala kepada pos komando dan otoritas terkait. Informasi yang disampaikan ke publik dijaga akurasinya untuk menghindari spekulasi. Dalam konteks hukum dan tata kelola kebencanaan, transparansi adalah bentuk perlindungan bagi semua pihak.
Bertahan untuk Melangkah Maju
Saat fajar menyingsing di Bulusaraung, tenda itu masih berdiri. Dari sanalah tim SAR menyusun langkah berikutnya—menunggu cuaca bersahabat, memeriksa jalur aman, dan melanjutkan tugas.
Di puncak bukit yang sunyi, ketangguhan manusia diuji. Dan di sana pula, kemanusiaan menemukan wujudnya: bertahan agar bisa menolong, berhati-hati agar bisa kembali, dan bekerja tanpa henti demi keselamatan dan kebenaran.